Cara Mengajari Keterampilan Hidup pada Anak

Belajar keterampilan hidup dalam fase golden age, terampil sejak usia dini — Enam tahun pertama dalam kehidupan seorang anak adalah fase golden age, saat anak menyerap segala sesuatu di sekitarnya seperti spongebob. Bahasa, sikap, etika, nilai, kultur dari interaksi yang dia rasakan diserap hingga menjadi bagian dari kehidupannya kelak.

Dalam enam tahun pertama tersebut, sangat penting memberikan practical life skills (keterampilan hidup) kepada anak. Misalnya, yang berdasar pada pengamatan Dr Maria Montessori (pendidik, ilmuwan Italia). Anak pada dasarnya sangat tertarik mempelajari hal baru dan ingin melakukan apa yang orang di sekitarnya lakukan. Aktivitas-aktivitas practical life skill menjadi bekal kemampuan hidup yang penting untuk kehidupan anak kelak.

Sesuaikan tingkat kesulitan aktivitas dengan usia anak. Area kegiatan practical life skills mencakup kepedulian terhadap lingkungan (memasak, berkebun, menuang air, merapikan mainan, membersihkan meja); kepedulian terhadap diri sendiri (mandi, memakai baju, mencuci tangan, menyisir rambut, dll.); serta sopan santun dan tata krama (membawa benda dengan benar, cara berjalan, dan menawarkan makanan).

Kegiatan-kegiatan tersebut terlihat sangat sederhana dan mudah dilakukan. Namun, bagi anak usia dini, keterampilan hidup seperti tadi adalah hal baru. Mereka akan merasakan pencapaian bila dapat melakukannya sendiri. Diusahakan menggunakan perlengkapan asli, bukan mainan. Contohnya, gelas yang dipakai adalah gelas kaca berukuran kecil (bukan gelas plastik). Diperbolehkan menggunakan benda-benda asli dalam ukuran kecil sesuai usia anak, dia merasa dipercaya dan menjadi lebih berhati-hati. Gunakan benda-benda yang tersedia di sekitar. Misalnya:

Beberapa kegiatan sederhana yang dapat diajarkan pada anak

1. Memindahkan air dengan menggunakan spons

Siapkan dua wadah yang sama, isi dengan air (serta sabun bila perlu). Kenalkan anak bahwa spons menyerap air, cara memindahkan ke wadah di samping kanannya, dan meremas agar air keluar. Kegiatan itu bisa dilanjutkan dengan mencuci mainan anak.

2. Menuang cairan dari satu wadah ke wadah lain

Siapkan beberapa gelas, bisa dipilih yang transparan dan berbeda bentuk. Dengan demikian, anak sekaligus belajar sains tentang sifat air ketika berpindah tempat.

3. Memindahkan telur dengan hati-hati

Mengenalkan si kecil dengan konsep handling with care. Bahwa ada benda-benda yang rapuh dan mudah pecah. Latih anak menggunakan gelas, mangkuk, dan piring dari bahan yang mudah pecah. Awalnya, mungkin orang tua khawatir. Tapi, dengan diberi kepercayaan, anak akan lebih berhati-hati dan percaya diri.

4. Membuka kancing, resleting, mengikat tali sepatu

Mengasah motorik halus, otot jari tangan, serta koordinasi mata dan tangan. Menyiapkan anak menjadi pribadi yang mandiri. Bisa memakai baju dan sepatu sendiri tanpa bantuan.

5. Menggunakan penjepit / capitan

Berilah contoh cara menggunakan penjepit baju, lalu mengaitkannya ke jemuran. Bila anak sudah mahir, variasikan dengan kegiatan memindahkan kancing dengan menggunakan jepitan dan mengelompokkan sesuai warna. Kegiatan ini melatih otot-otot jari anak dan koordinasi sehingga menyiapkan anak untuk bisa menulis dengan rapi.

Manfaat mengajari keterampilan hidup pada anak

Dengan environment yang tepat, anak tidak merasa terpaksa atau diperintah melakukan semua kegiatan. Mereka justru ingin belajar dan ingin bisa. Tentu, orang tua harus tetap memantaunya. Orang tua juga harus melihatnya dari sudut pandang anak.

Dengan memberikan keterampilan hidup kepada anak sejak usia dini, banyak manfaat yang akan diperoleh: anak merasa lebih tenang, percaya diri, dan lebih menghargai diri sendiri. Kegiatan seperti membersihkan meja, merapikan makanan, dan mencuci piring membentuk anak menjadi mandiri. Hal itu juga melatih kemampuan motorik halus dan kasar, mengasah koordinasi mata, tangan, dan otot-otot.

Tujuan dalam kegiatan keterampilan hidup bagi anak berbeda dengan orang dewasa. Contoh, kegiatan bersih-bersih bagi orang dewasa dilakukan secara cepat dan efisien. Tetapi bagi anak usia dini, dia menikmati proses tersebut sebagai aktivitas bermain yang menyenangkan. Wajar, tujuannya adalah mengajarkan anak memberikan kontribusi positif. Nanti pada usia 6-12 tahun anak akan memiliki tanggung jawab yang lebih tinggi.

Manfaat lainnya berkaitan dengan masa absorbent mind. Anak-anak usia dini memerlukan kondisi yang teratur, pengulangan, serta presisi. Aktivitas-aktivitas practical life skills memenuhi kebutuhan itu. Dengan mengerjakan langsung, anak belajar berkonsentrasi. Hal itu baik untuk mengasah kemampuan kognitif anak.

Yang tidak kalah penting, practical life skills menjadi fondasi yang kuat untuk perkembangan anak di kemudian hari, menyiapkan anak secara fisik, mental, dan sosial, serta menanamkan kebiasaan positif yang akan terbawa hingga dia tumbuh dewasa.

Keep calm and follow the child!

Pendekatan Motessori

Prepared environment.

Pentingnya ruang aktivitas anak dibuat kondusif dan aman untuk proses eksplorasi dia sehingga dapat mendukung kemandiriannya. Contoh, kursi dan meja yang disesuaikan dengan tinggi anak, lemari dan perabotan yang sudutnya tidak tajam, serta laci yang mudah dibuka dengan meminimalkan resiko tangan anak terjepit.

Real object child size

Dianjurkan menggunakan benda-benda asli yang terbuat dari keramik, kaca, kayu, atau logam. Terutama untuk aktivitas seperti menuang atau memindahkan. Kenapa?

Agar anak memahami sifat setiap bahan. Misalnya, gelas kaca mudah pecah sehingga harus lebih berhati-hati saat memegangnya, sedangkan kayu lebih ringan dan tidak mudah pecah. Namun, pastikan ukuran benda-benda asli (real object) itu pas di tangan anak (child size).

Konkret dulu, baru abstrak

Anak-anak lebih mudah menangkap konsep dengan menggunakan benda 3 dimensi atau 2 dimensi daripada hal abstrak. Contoh, untuk mengenalkan nama buah-buahan, akan mudah diingat ketika disertai dengan benda konkret (buah). Ajak si kecil berbelanja ke toko buah, berikan pengalaman memegang, merasakan tekstur, melihat warna, dan mencium aroma buah tersebut.


Inspirasi: IndonesiaMontessori.com, buku Montessori di Rumah.

Tags: ketrampilan hidup untuk an, contoh kegiatan life skill, life skill umur 2-3 thn, mengajarkan keterampilan hidup pada balita, model keterampilan hidup pada paud, video model keterampilan hidup pada anak usia dini
Cara Mengajari Keterampilan Hidup pada Anak | maria teguh | 4.7