Review Film “La La Land” (2016)

LET’S SING ALONG IN THE CITY OF STARS! — Awalnya, Brbagi ga begitu menaruh perhatian pada film ini, soalnya saya pikir genre nya drama aja. Tapi setelah tau yang bikin akang Damien yang dulu pernah bikin Whiplash, saya langsung pengen nonton. Tapi kok ga ditayangin di Indo waktu itu 🙁 Baru ditayangin pun setelah La La Land sukses borong TUJUH piala Golden Globes 2017 tempo hari. Waktu bikin ini, rating iMDB 8.8 dan RottenTomatoes maupun Metacritic 93%. Ya emang pantes!

Trailer La La Land

La La Land (US, 2016)
By Damien Chazelle
Ryan Gosling, Emma Stone, John Legend
Musical | Drama

Review La La Land

Melihat sajian visual terstruktur diiringi musik indah Another Day of Sun pada dua menit pertama, saya langsung mengerti mengapa La La Land berhasil menyapu bersih 7 Golden Globes. Di sini, Damien Chazelle tidak meninggalkan gaya super detail miliknya saat menyusun kepingan gambar dalam sinematografi yang remarkable. Sensitivitas Chazelle mengawinkan musik Jazz dengan mood adegan juga masih sebaik karya terdahulunya, Whiplash. Lalu apa yang berbeda kali ini? Saya akan menjawab, kali ini transformasi bakat Chazelle hadir dengan menu tambahan baru berupa tata artistik yang outstanding dan magical.

Tidak hanya sekali saya dibuat merinding dengan komposisi berbagai objek penyusun latar film ini. Semua diperhitungkan rapi, eye-catching, dan tidak biasa. Saya mulai berharap langit senja hari ini berwarna ungu, atau cahaya bisa mendadak redup saat hati saya remuk oleh hal menyedihkan. Film ini mengingatkan saya pada lukisan mewah bin indah dalam sebuah galeri seni. Selain itu, para cast berkontribusi besar memaksimalkan potensi film ini. Ryan Gosling dan Emma Stone are just perfect! Kemampuan mereka menyanyi, menari, dan bermain alat musik mengejutkan saya. Isu-nya, Ryan Gosling nolak Beauty And The Best biar bisa jadi Sebastian di La La Land, sementara Emma Watson menolak La La Land biar bisa main di Beauty And The Beast. 

Kali ini saya tidak akan menarasikan cerita dalam bentuk sinopsis karena La La Land sendiri bercerita dalam ruang lingkup seni peran, musik, dan tari, jadi anda harus melihat, merasa, dan mendengar untuk mendapat poin cerita secara utuh. Sampai detik ini suara piano dalam lagu City of Stars urung berhenti bermain dalam kepala saya. Baru kali ini saya melihat penonton bioskop begitu sering menggoyangkan kaki serta kepala saat menonton film. Saya juga sih.

Bahkan waktu pulang dan bikin postingan ini, saya langsung buka Spotify, mendengarkan soundtracknya, dan ngetik sambil mewek… Suara mas Ryan yang sendu-sendu enak sih yang paling memorable.

Soundtrack La La Land -semua lagunya- sukses merebut hati saya. Nih buat yang mau dengerin atau download..

Soundtrack film La La Land

La La Land ditutup dengan air mata dan histeria penonton perempuan. Waktu credit title muncul, saya terdiam. Pengen nangis dan histeris kayak cewek lain, tapi saya gak bisa soalnya perasaan saya campur aduk. Speechless. Perih. Baper. Relatable. Gagal move on. Saya sukses hanyut dalam mimpi dan terbangun ketika film selesai. Seolah menyadarkan bahwa hidup nyata tidak seindah lagu, namun saya yakin penonton telah berhasil mendapat moral value paling substansial dalam film ini: jangan pernah takut bermimpi.

Super duper recommended! (/Review oleh MoronMovies, ditambahkan oleh Brbagi)

Review Film “La La Land” (2016) | maria teguh | 4.7